Sabtu, 27 Februari 2016

Novel 2

Hari pertama masuk sekolah kelas 12 dimana kelas ini harus benar2 fokus karena nantinya akan menghadapi banyak ujian untuk masuk ke universitas yang kita inginkan. Demi mengejar cita2 kita. 

Aku dapat  kelas unggulan 12-A.
sudah tidak asing dengan wajah teman2 kelasku ini. Karena sudah 2 tahun aku bersekolah disini. Mungkin hanya beberapa yang aku tidak kenal. 

Semester 1 sudah terlewati. Rasanya terlalu cepat. Belum siap rasanya menerima kenyataan akan berpisah dengan mereka. Setiap harinya banyak kenangan yang kami lalui suka maupun duka, toleransi, tolong menolong. 


Semester 2 sudah dimulai. Aku duduk sebangku dengan Andani. Tepat disamping kananku duduklah anggota geng Paparazi. Dari semua barisan yang ada di kelas, hanya barisan aku dan Andani yang hanya diisi oleh dua orang sementara barisan lainnya tiga orang. Geng Paparazi beranggotakan Dinian,Danida dan Nahati. Dan tepat di sebelah  kiri Andani duduklah dua orang tukang lawak di kelas namanya Edsan dan Putra. Dan satu lagi Si Ketua Kelas Damiano.
Tepat di depanku ada Nisa. Dia orangnya pendiam, tapi tidak pendiam juga. Terkadang dia juga lucu ketika berbicara. Walaupun terkadang memang tingkahnya membuat kami sekelas tertawa. 

Hari selasa tiba, dimana hari ini jam pertama pelajaran matematika. Kami diberi tugas tetapi bapak guru belum menjelaskan bagaimana cara mengerjakannya. Aku pun bertanya pada geng Paparazi. Namun tidak satupun dari mereka ada yang mengerti. Aku pun bertanya ke anak2 lain. Tetapi tetap tidak ada satu pun yang mengerti. Akhirnya aku pun bertanya pada Nisa. Nisa memang pintar dalam bidang mata pelajaran matematika sehingga dia sering dijuluki Kepala Suku oleh guru matematika. Dan ternyata dia memang tahu caranya. Benar2 jenius bocah ini. 


Kami pun bersama2 termasuk geng Paparazi memperhatikan cara Nisa menyelesaikan soal ini. Setelah nisa berhasil menyelesaikan 1 soal. Kami secara serentak bertepuk tangan dengan kompak. Nisa berkata bahwa dia hanya mencoba. Edsan dengan ekspresi keheranan berkata bahwa dia sudah mencoba-coba sampai 1 kertas penuh dengan coretan tetapi tidak ketemu juga jawabannya.  Aku pun hanya terdiam melihat tingkah Edsan yang merasa heran mengapa ia tidak menemukan jawaban soal itu.  Akhirnya Nisa melihat kertas coretan milik Edsan. Dan  yang lebih mengejutkan adalah Edsan salah angka pada soal yang diselesaikannya tadi. Kami pun refleks tertawa setelah mendengar perkataan Nisa. Ditambah kami melihat ekspresi wajah Edsan yang membuat perut kami terasa mual karena tertawa. 

Karena terlalu asik tertawa, kami tidak sadar bahwa pak guru masuk ke dalam kelas. Pak Sukan memanggil sang Kepala Suku untuk ikut ke ruangan beliau. Kami pun terkejut, ada apa ini ? Apakah Pak Sukan mendengar suara dari kelas kami yang memang agak berisik saat ditinggal tadi? Kami pun saling berbisik, bertanya tanya. 
Dan akhirnya datanglah mereka berdua ke kelas. Dan Si Kepala Suku pun kembali ke tempat duduknya. Diam tanpa basa-basi. Pak Sukan langsung menjelaskan bagaimana cara menyelesaikan soal yang ia berikan tadi. Sehingga mata kami tertuju pada benda yang lebar berwarna putih serta penuh coretan rumus. Dan aku pun tidak sempat bertanya kepada Nisa apa yang ia bicarakan dengan Pak Sukan. 


Suara yang paling merdu bagi anak sekolah yaitu bel pulang sekolah yang berbunyi 3x, membuat mata yang mengantuk seketika membuka lebar. 

Ketika aku memasukkan buku yang begitu tebal tetapi tidak pernah dibaca kedalam tasku,dan hendak berjalan keluar kelas. Tiba2 ada yang memanggil namaku "Lalia!" Akupun menoleh mencari asal suara itu dan ternyata Nisa. Aku menghampirinya, Dan aku tersadar hanya aku dan Nisa yang ada di dalam kelas. Nisa berkata tentang apa yang ia bicarakan dengan Pak Sukan tadi. Bahwa ia menerima 6 undangan beasiswa bimbingan belajar gratis.  Tetapi ia bingung ia harus membagikan kepada siapa 5 undangan itu. Ia bertanya apakah aku mau menerima undangan itu, lalu aku menjawab iya. Dan Ia meminta usulku untuk memilih siapa lagi orang yang akan ia beri. Lalu aku menyarankan Geng Paparazi dan Putra untuk ikut. Jadi pas 6 orang. Nisa, aku, Putra dan 3 orang Geng Paparazi. Nisa pun menerima usulan dariku. Dan akan memberitahu mereka esok hari.


Akhirnya keesokan hari secara diam2 Nisa mengajak mereka berempat ke halaman belakang sekolah untuk memberi undangan itu kepada mereka. Dan ternyata mereka semua menerimanya. Nisa berkata Bimbingan belajar akan dimulai hari Selasa Minggu depan pukul 16.00.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar