Sabtu, 27 Februari 2016

Novel 4

Terkadang aku menunjukkan sosok diriku yang sebenarnya. Dengan memberi perhatian dan mengingatkannya. Aku tidak tahu apakah dia mengetahui perasaanku atau tidak. Terkadang di fikiranku terlintas bahwa aku harus memberitahunya. Tapi aku tahu aku tidak akan sanggup melakukannya. 

Ada kata-kata yang terlintas di fikiranku " Jika kita tidak siap harus kehilangan, sebaiknya tidak memiliknya sejak awal "

Ujian Nasional sudah dilewati. Target yang aku tentukan akhirnya tercapai dengan sempurna. Untuk masuk ke universitas terkenal.

 Dan akhirnya tibalah hari perpisahan. Ravi bersikap seakan tidak terjadi apa2. Aku merasa bahwa ini akan benar2 berakhir.

Saat aku memandanginya dari kejauhan dengan mata yang sayu dan dalam hati berkata "Sejak pertama kali kita bertemu dulu, pintu maupun jendela hatiku sebenarnya sudah mulai terbuka lebar untuk memberi maupun menerima simpati atau rasa suka yang khusus dan mendalam terhadap kamu, tapi kemudian secara sadar maupun dalam mimpi-mimpiku yang indah-indah, ternyata dirimu hampir selalu muncul dalam wujud yang makin baik dan makin menyenangkan terus. Dan inilah yang aku maksud dengan 'I love you sejak dulu!' Apakah kamu juga begitu?"

Aku merasa sekarang Ravi agak jaga jarak denganku. Terkadang aku menyesal tidak seharusnya aku melakukan itu semua. Mungkin karena dia merasa terganggu jika ia dekat denganku.

Setiap kata dari bibirku kadang tak sama dalam hatiku.
Aku sangat mengenalmu
Tapi kau tak pernah ada pengertian
Kusenang kusedih kau tak mau tau.
Dulu kau tak begitu.
Ku tak pernah membenci dirimu.
Aku ingin mewujudkan impianku bersamamu. Mengelilingi dunia bersama-sama. 


2 tahun  berlalu. Lalia tetap setia dengan komitmen yang telah ia buat.


Jum'at, 19 Februari 2020.
Seorang perempuan dengan high heels dan pakaian yang berwarna cream lengkap dengan cardigan berwarna cokelat muda dan tas hitam sedang berjalan di sebuah taman kota tampak kerepotan membawa buku2 yang sedang ia bawa. Dan  secara tidak sengaja menabrak seseorang sehingga Lalia terjatuh dan buku2 pun berserakan. Ternyata orang yang menabraknya adalaha Ravi. Ia sangat terkejut dan menangis haru melihat apa yang ditatapannya sekarang. Ya. Terlihatlah sosok Ravi sudah menggunakan seragam apa yang selama ini Ravi cita2kan. Dan orang yang selama ini Lalia tunggu dengan setia. Ravi tersenyum sambil merapihkan buku yang beserakan. Dan menyapaku "Hallo Lalia, apa kabarmu ?" Sambil mengembalikan buku2 itu ke tanganku. 

Epilog** Jika perasaan datang tanpa mengetuk pintu maka perasaan itu bisa pergi tanpa mengatakan selamat tinggal. Tanpa kita duga akan datang dengan sendirinya sesuai dengan waktu**

Novel 3

Berjalan dengan santai pulang ke rumah. Dengan langkah yg berat karena lelah. Melepas sepatu dan melemparnya ke rak sepatu yang letaknya tidak terlalu jauh dari pintu. Masuk ke kamar yang sedikit berantakan karena PR semalam. Dengan berat tangan menaruh tas di lemari. Dan lekas mandi. Lalu bergegas turun untuk mengisi perut yang tidak bisa diajak kompromi lagi. Sambil makan, memikirkan apa yang telah terjadi disekolah tadi. Aku mendapat nilai matematika jelek. Aku berfikir apa penyebabnya. Ini adalah pertama kalinya aku mendapat nilai seperti itu.  Aku takut ketahuan mama. Jika ia melihat kertas itu, aku harus siap dipotong uang sakuku selama 1 minggu.


Dengan asyik aku menonton drama kesukaanku. Aku hampir lupa jika hari ini adalah hari pertama Bimbingan Belajar dimulai. Dengan bergegas aku menyiapkan peralatan dan segera menuju tempat bimbingan belajar.  Aku menduga bahwa aku akan telat sampai disana. Karena ini adalah hari pertama masuk. 

Sesampainya disana aku bertemu dengan Geng Paparazi. Mereka sudah datang lebih dulu daripada aku. Akupun bertanya pada Nahati  apakah ada orang lain dari sekolah kita selain anak kelas 12-A. Nahati menjawab iya. Dan kamipun mendengar suara kendaraan bermotor sedang memarkirkan kendaraannya.

Ternyata orangnya adalah Putra dan temannya. Aku tidak pernah melihat ia sebelumnya, tetapi dia satu sekolah dengan kita, tetapi berbeda kelas.

Ibu kepala yayasan datang menghampiri kami bahwa sudah saatnya kami masuk ke kelas. Kelasnya tidak begitu besar tapi cukup bersih dan nyaman. Ada AC dan kipas angin, serta meja2 yang panjang tanpa bangku tetapi beralasakan karpet yang tidak terlalu empuk untuk kita duduki. Saat aku memperhatikan seisi ruangan ini dari ujung sampai ke ujung. Masuk lah segerombolan anak2 dari sekolah lain. Betapa terkejutnya aku ketika aku memperhatikan mereka dan ternyata orang yang paling belakangan masuk adalah Pita dan Rahma. Teman satu sekolah kami yang ternyata sudah lebih dahulu masuk bimbingan belajar disini.


Tidak sampai 5 menit. Guru pembimbing kami pun masuk mengucapakan salam perkenalan dengan ramah. Aku mengira guru pembimbing kami adalah ibu2 atau bapak2 ternyata kakak2 kuliahan.
Tidak lama mengucapakan salam perkenalan diri masing2. Dan temannya Putra ternyata namanya Ravi. kami pun memulainya dengan doa dan memulai pelajaran.


Sudah 3 bulan kami mengkuti bimbingan belajar. Pertemanan kami makin akrab satu sama lain. Entah ini pertemanan atau apa ?
Akupun juga tidak tahu. Biarlah semua berjalan dengan sendirinya.


Setelah selesai membantu pekerjaan ibuku. aku mengambil benda berbentuk persegi panjang dengan lampu yang menyala dan terkadang berbunyi jika terjadi sesuatu. Lalu aku segera melihat pembaruan yang telah orang lain lakukan di handphonenya masing2 di sebuah sosial media. Dan aku melihat pembaruan Ravi. Ia mengganti gambar tampilan di kontak nya dengan hal yang dapat membuatku berkomentar. Dan lama kelamaan dengan seiring berjalannya waktu tanpa aku sadari semakin hari aku lebih dekat dengannya. Ada saja hal yang kami berdua bicarakan dari penting sampai  yang tidak terlalu penting, serta bertukar informasi sesuai hobi kami. 

Arah jarum jam sudah menunjukkan waktunya untuk kita pulang. Hari sudah semakin sore, langit semakin gelap. Hari ini Pita teman pulangku tidak hadir. Hanya aku sendiri, yang tidak membawa kendaraan. Geng Paparazi botig(bonceng tiga). Ketika aku berjalan sendirian hendak pulang kerumah Ravi menghampiriku. Ia mengajakku untuk ikut bersamanya. Ia berkata "Kita kan pulangnya searah, dan kamu tidak ada teman pulang. Kamu mau ikut denganku ?", Kata Ravi. Aku pun berkata "Boleh", jawabku. 


Novel 2

Hari pertama masuk sekolah kelas 12 dimana kelas ini harus benar2 fokus karena nantinya akan menghadapi banyak ujian untuk masuk ke universitas yang kita inginkan. Demi mengejar cita2 kita. 

Aku dapat  kelas unggulan 12-A.
sudah tidak asing dengan wajah teman2 kelasku ini. Karena sudah 2 tahun aku bersekolah disini. Mungkin hanya beberapa yang aku tidak kenal. 

Semester 1 sudah terlewati. Rasanya terlalu cepat. Belum siap rasanya menerima kenyataan akan berpisah dengan mereka. Setiap harinya banyak kenangan yang kami lalui suka maupun duka, toleransi, tolong menolong. 


Semester 2 sudah dimulai. Aku duduk sebangku dengan Andani. Tepat disamping kananku duduklah anggota geng Paparazi. Dari semua barisan yang ada di kelas, hanya barisan aku dan Andani yang hanya diisi oleh dua orang sementara barisan lainnya tiga orang. Geng Paparazi beranggotakan Dinian,Danida dan Nahati. Dan tepat di sebelah  kiri Andani duduklah dua orang tukang lawak di kelas namanya Edsan dan Putra. Dan satu lagi Si Ketua Kelas Damiano.
Tepat di depanku ada Nisa. Dia orangnya pendiam, tapi tidak pendiam juga. Terkadang dia juga lucu ketika berbicara. Walaupun terkadang memang tingkahnya membuat kami sekelas tertawa. 

Hari selasa tiba, dimana hari ini jam pertama pelajaran matematika. Kami diberi tugas tetapi bapak guru belum menjelaskan bagaimana cara mengerjakannya. Aku pun bertanya pada geng Paparazi. Namun tidak satupun dari mereka ada yang mengerti. Aku pun bertanya ke anak2 lain. Tetapi tetap tidak ada satu pun yang mengerti. Akhirnya aku pun bertanya pada Nisa. Nisa memang pintar dalam bidang mata pelajaran matematika sehingga dia sering dijuluki Kepala Suku oleh guru matematika. Dan ternyata dia memang tahu caranya. Benar2 jenius bocah ini. 


Kami pun bersama2 termasuk geng Paparazi memperhatikan cara Nisa menyelesaikan soal ini. Setelah nisa berhasil menyelesaikan 1 soal. Kami secara serentak bertepuk tangan dengan kompak. Nisa berkata bahwa dia hanya mencoba. Edsan dengan ekspresi keheranan berkata bahwa dia sudah mencoba-coba sampai 1 kertas penuh dengan coretan tetapi tidak ketemu juga jawabannya.  Aku pun hanya terdiam melihat tingkah Edsan yang merasa heran mengapa ia tidak menemukan jawaban soal itu.  Akhirnya Nisa melihat kertas coretan milik Edsan. Dan  yang lebih mengejutkan adalah Edsan salah angka pada soal yang diselesaikannya tadi. Kami pun refleks tertawa setelah mendengar perkataan Nisa. Ditambah kami melihat ekspresi wajah Edsan yang membuat perut kami terasa mual karena tertawa. 

Karena terlalu asik tertawa, kami tidak sadar bahwa pak guru masuk ke dalam kelas. Pak Sukan memanggil sang Kepala Suku untuk ikut ke ruangan beliau. Kami pun terkejut, ada apa ini ? Apakah Pak Sukan mendengar suara dari kelas kami yang memang agak berisik saat ditinggal tadi? Kami pun saling berbisik, bertanya tanya. 
Dan akhirnya datanglah mereka berdua ke kelas. Dan Si Kepala Suku pun kembali ke tempat duduknya. Diam tanpa basa-basi. Pak Sukan langsung menjelaskan bagaimana cara menyelesaikan soal yang ia berikan tadi. Sehingga mata kami tertuju pada benda yang lebar berwarna putih serta penuh coretan rumus. Dan aku pun tidak sempat bertanya kepada Nisa apa yang ia bicarakan dengan Pak Sukan. 


Suara yang paling merdu bagi anak sekolah yaitu bel pulang sekolah yang berbunyi 3x, membuat mata yang mengantuk seketika membuka lebar. 

Ketika aku memasukkan buku yang begitu tebal tetapi tidak pernah dibaca kedalam tasku,dan hendak berjalan keluar kelas. Tiba2 ada yang memanggil namaku "Lalia!" Akupun menoleh mencari asal suara itu dan ternyata Nisa. Aku menghampirinya, Dan aku tersadar hanya aku dan Nisa yang ada di dalam kelas. Nisa berkata tentang apa yang ia bicarakan dengan Pak Sukan tadi. Bahwa ia menerima 6 undangan beasiswa bimbingan belajar gratis.  Tetapi ia bingung ia harus membagikan kepada siapa 5 undangan itu. Ia bertanya apakah aku mau menerima undangan itu, lalu aku menjawab iya. Dan Ia meminta usulku untuk memilih siapa lagi orang yang akan ia beri. Lalu aku menyarankan Geng Paparazi dan Putra untuk ikut. Jadi pas 6 orang. Nisa, aku, Putra dan 3 orang Geng Paparazi. Nisa pun menerima usulan dariku. Dan akan memberitahu mereka esok hari.


Akhirnya keesokan hari secara diam2 Nisa mengajak mereka berempat ke halaman belakang sekolah untuk memberi undangan itu kepada mereka. Dan ternyata mereka semua menerimanya. Nisa berkata Bimbingan belajar akan dimulai hari Selasa Minggu depan pukul 16.00.




Novel

Chapter 1

Prolog **Menemukan seseorang yang tepat tidaklah mudah. Siapapun yang terlibat dalam kehidupan kita nantinya akan menjadi orang yang tepat dengan seiring berjalannya waktu**

Lalia Pranita. Perempuan yang cukup tinggi, pintar, pendiam, kulit sawo matang dan agak sedikit kuper.

 Lulus dengan nilai yang cukup memuaskan dan membuat orangtua senang. Dan berhasil masuk kesalah satu SMA yang favorit.

Pagi yang cerah, tidak terasa hari ini adalah hari pertama masuk sekolah baru. Berjalan dengan semangat dan perasaan gembira dan tidak sengaja aku melihat sekerumunan siswa di dekat pintu kelas dari sekian banyak ruang kelas. Aku pun berjalan perlahan mendekati kerumunan itu. Dan ternyata itu hanyalah secarik kertas daftar nama kelas. 
Akibat lupa bertanya pada Ayah, aku bingung harus masuk ke kelas yang mana, lalu aku pun berfikir. Apakah aku harus melihat satu persatu daftar nama kelas dari ujung sampai ke ujung. 
Setelah semua ku lihat, ternyata aku masuk ke salah satu daftar nama kelas terakhir. Kelas 10-I. Akupun mulai mencari tempat duduk, ternyata hanya sisa satu bangku yang kosong, tepat di depan meja guru. Aku pun segera meletakkan tas  berwarna biru muda yang tidak terlalu berat di bangku itu. Lalu aku bergegas keluar kelas mencari teman SMP yang bersekolah disini juga. Ratna dan  Andani. Memang tidak terlalu banyak, tetapi cukup membuatku tidak merasa sendirian di sekolah ini walaupun nantinya aku akan mendapat teman baru. Bel pun berbunyi, tanda bahwa kita harus masuk ke kelas masing2 karena kita bertiga berbeda kelas. Menurutku mungkin tidak terlalu buruk jika aku tidak satu kelas dengan mereka. Itu cukup memberi peluang bagi diri masing2 untuk bisa menyesuaikan diri dengan teman2 baru. 

Aku pun masuk kedalam kelas, menuju tempat duduk yang paling diperhatikan oleh guru. Akupun menyapa teman sebangkuku dan ternyata dia perempuan. Tadinya aku mengira ia laki2 karena warna tasnya hitam. Hari pertama sudah pastinya tidak belajar, sudah bisa ditebak hari pertama itu pelaksanaan MOS (Masa Orientasi Siswa). Akhirnya masa MOS selama 3 hari selesai. 


Dari awal aku masuk sekolah aku sudah berjanji untuk fokus mengejar cita- citaku menjadi Pramugari. Sehubungan dengan badanku yang memang cukup tinggi daripada teman2ku yang lainnya. Dan akan mewujudkan mimpiku untuk bisa berkeliling dunia. Aku juga berkomitmen untuk tidak menjalin hubungan sebelum waktunya (pacaran). 

Tidak terasa sudah sebelas bulan aku bersekolah dan sudah waktunya untuk UKK ( Ulangan Kenaikan Kelas). Dengan semangat aku belajar siang dan malam agar mendapat nilai bagus. Dan apa yang aku harapkan terwujud sesuai dengan usaha dan doa yang aku panjatkan kepada Allah SWT.

Tibalah waktunya liburan. Selama liburan aku tidak pernah putus kontak dengan teman2ku, dan kabarnya namaku masuk kedalam salah satu daftar nama kelas unggulan. Andani yang memberitahuku melalui foto daftar nama kelas yang dikirim kepadaku. Dan disitu juga tertulis nama Andani, Aku sangat senang. Karena pada kenyataannya masuk ke kelas itu tidaklah mudah, hanya orang2 yang terpilih yang   bisa masuk ke kelas itu.

Tibalah waktunya hari pertama masuk sekolah dengan kelas yang baru dan teman2 yg baru lagi. 

Kelas 11-A, kali ini aku tidak mendapat tempat duduk yang katanya menyeramkan. Benar, aku tidak lagi duduk didepan meja guru. Kali ini pasti aku tidak akan salah mengira teman sebangkuku lagi. Karena sudah jelas warna tas merah muda. Sudah pasti perempuan, namanya Hilda. Orangnya cukup baik, tinggi, putih, pintar, dan selalu setia mengikuti kemana pun aku pergi, begitupun sebaliknya kemanapun dia pergi aku pun selalu ada disampingnya. 

Tidak butuh waktu lama kita pun semakin akrab, kita belajar bersama2, memecahkan masalah bersama-sama. Kita berdua sudah seperti permen karet (lengket) tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Jika Hilda punya masalah, dia selalu cerita dan meminta solusinya padaku baik itu senang ataupun sedih. Begitupun sebaliknya. Kami berdua saling timbal balik. 

Tibalah waktunya untuk kegiatan rutin setiap Hari Senin. Ya. Upacara Bendera. Baris dengan tertib dan rapih, bisa dibilang mirip ikan asin yang dijemur. Kurang lebih satu jam kami berdiri dilapangan mendengarkan pembina upacara berpidato tentang tema yang sama2 saja setiap minggunya. 

Berbunyilah dengan merdu bel sekolah memasuki jam pelajaran pertama. Jam pertama sampai jam kedua itu pelajarannya Bahasa Indonesia. Dengan setia kami  menunggu ibu guru datang ke kelas, tapi tampaknya ia berhalangan hadir karena ada  keperluan mendadak yang harus diselesaikannya. Tetapi ketika guru tidak datang, tugas tetap datang. Karena tugas sudah menunggu kami minta segera diselesaikan. Tugasnya membuat mading tentang peringatan Bulan Bahasa secara berkelompok dengan masing2 kelompok beranggota 4 orang. Hilda mengajak Andani dan Dida untuk bergabung dengan kami. Kami pun sepakat untuk bekerja kelompok di rumah Hilda esok hari. 


Tibalah hari dimana kita harus mengumpulkan tugas kami. Dan ternyata hasil karya kelompok kamilah yang mendapat nilai tertinggi.  Kami berempat sangat senang dan kami saling berpelukan dengan menunjukkan kekompakkan kami. 


Aku duduk terdiam di depan meja belajarku  dengan lampu belajar yang masih menyala seusai mengerjakan PR Matematika yang begitu panjang dan ribet cara menyelesaikannya. Mataku tertuju pada sebuah benda yang selalu bergerak setiap detik. Benda itu adalah jarum jam yang menunjuk angka 21.30.

Aku teringat kejadian tadi pagi disekolah. Hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan. Setelah melewati hari demi hari bulan demi bulan berlalu, banyak peristiwa yang tidak pernah aku alami selama aku kelas 10. Dan aku sadar kelas 11 lebih menyenangkan dibandingkan kelas 10. Tapi semua itu tidak sia2 karena setiap waktu yang telah berlalu adalah pelajaran bagi kehidupan kita dan kehidupan nantinya. 

Tidak terasa sudah waktunya kami akan naik ke kelas 12. Itu artinya kita  tidak lama lagi akan meninggalkan sekolah yang penuh kenangan ini. Tempat kita tumbuh lebih dewasa setiap harinya, mendapat pelajaran hidup setiap detiknya, dan mendapat teman untuk berbagi kisah kehidupan. Serta guru2 yang mengajajarkan kami dari tidak tahu apa2 sampai kami benar2 mahir.